Jumat, 17 Juni 2016

REVIEW JURNAL 1

1. Judul Penelitian :
Relevansi Nilai Selisih Loans Book Value dan Loans Fair Value, Book Value Per Share, Earnings Per Share dan Ukuran Perusahaan

2. Penulis
Dina Bakti Pertiwi , Novrys Suhardianto

3. Nama Jurnal :
Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Vol. 17, No. 2, November 2015, 82-90

4. Tahun Terbit : 
2015

5. Latar Belakang Penelitian : 
Indonesia sebagai anggota G20 berkomitmen mengonvergensi standar akuntansi keuangan Indonesia (SAK) agar selaras dengan International Financial Reporting Standard (IFRS) yang disusun oleh International Accounting Standards Board (IASB). Sejak Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) berkomitmen menerima IFRS pada 2008, proses konvergensi PSAK terhadap IFRS terus berlangsung sampai kesenjangan antara PSAK dan IFRS semakin mengecil dengan harapan relevansi laporan keuangan menjadi lebih baik. Salah satu dampak konvergensi PSAK terhadap IFRS adalah kecenderungan meninggalkan historical cost menuju fair value meskipun perdebatan soal kedua metode penilaian tersebut belum berakhir (Drago, et al. 2013). Penggunaan historical cost dipandang akan mengurangi relevansi laporan keuangan dalam pengambilan keputusan (Sonbay, 2010). Di sisi lain, penggunaan fair value bisa jadi meningkatkan relevansi namun berpotensi tidak andal, ketika tidak ada harga pasar yang dapat mengevaluasi aset dan liabilitas keuangan (Nissim, 2003). Penggunaan fair value sangat disarankan oleh pernyataan standar akuntansi keuangan nomor 55 (PSAK 55) untuk instrumen keuangan. Salah satu instrumen keuangan paling dominan di perbankkan adalan loan atau pinjaman. Kewajiban menggunakan atau paling tidak mengungkapkan nilai wajar untuk instrumen keuangan sangat memengaruhi perbankan karena instrumen keuangan adalah komponen utama aset dan liabilitas bank. Sebagai lembaga intermediari, penyaluran kredit merupakan kegiatan yang mendominasi usaha perbankan. Informasi akuntasi dikatakan relevan apabila mampu mempengaruhi harga pasar saham (Reinita dan Deumes 2011). Untuk membuktikan bahwa pengungkapan fair value pinjaman bank (loan) bermanfaat bagi investor, penelitian ini bertujuan membuktikan bahwa perbedaan nilai buku dan nilai wajar loan memiliki kemampuan untuk memrediksi harga saham perbankan. Pengungkapan informasi fair value instrumen keuangan mempunyai relevansi nilai dalam menjelaskan harga saham (Hassan dan Norman, 2010). Pergerakan harga saham merupakan dampak dari keputusan investasi investor. 

6. Metode :
Jenis penelitian termasuk penelitian kuantitatif dengan periode pengamatan dari tahun 2010 sampai tahun 2013. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang berasal dari website resmi Bursa Efek Indonesia (www.idx.co.id), Bank Indonesia (www.bi.go.id), dan Yahoo Finance (www.finance.yahoo.com). Variabel independen dalam penelitian ini, antara lain : selisih loans book value dan loans fair value, book value per share, earnings per share dan ukuran perusahaan. Variabel dependen adalah harga saham. Penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2012:122). Pertimbangan yang digunakan dalam melakukan pemilihan sampel tersebut adalah sebagai berikut: 
1. Bank-bank tersebut terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan tidak sedang dalam proses delisting untuk periode 2010-2013 secara bertutut-turut. 
2. Bank-bank tersebut menerbitkan laporan keuangan tahunan untuk periode 2010-2013 secara berturut-turut. 
3. Bank-bank tersebut mengungkapkan nilai pinjaman baik nilai tercatat maupun nilai wajar dalam catatan atas laporan keuangannya untuk periode 2010-2013 secara berturut-turut.
Teknik analisis data dalam penelitian ini akan menggunakan regresi linier berganda dan uji hipotesis dilakukan secara bersama-sama (uji F) dan uji hipotesis secara parsial atau secara individu masing-masing variabel independen terhadap variabel dependennya (uji t). Sebelum dilakukan uji-uji tersebut, atas seluruh variabel penelitian dilakukan analisis statistik deskriptif untuk menggambarkan sampel yang diteliti yaitu dengan cara menentukan mean, median, standard deviation, minimum, dan maximum. Adapun persamaan regresi linier berganda yang digunakan adalah: 

Price = α + β1DIFF_BLFL + β2BVE + β3EPS + β4SIZE + ε 

Keterangan :
Price : Harga saham 
α: Konstanta 
β 1,2,3,4 : Koefisien regresi yang menunjukkan angka peningkatan ataupun penurunan variabel dependen yang didasarkan pada variabel independen. 
DIFF_BLFL: Selisih loans book value dan loans fair value 
BE : Book value per share 
EPS : Earnings per share 
SIZE : Ukuran perusahaan yang diproksikan dengan log total aset 
E : Standar error

Perusahaan yang digunakan sebagai sampel dalam penelitian ini berjumlah 27 perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang telah memenuhi kriteria pemilihan sampel. Periode pengamatan selama 2010-2013 membuat sampel yang digunakan berjumlah total 108 sampel. Berikut ini merupakan tabel analisis statistik deskriptif masing-masing variabel penelitian: 

Variabel
Minimum
Maximum
Mean
Standar Deviasi
Price
83,94
10.174,17
2.039,75
2.525,04
DIFF_BL
-7,24E12
1,31E12
-
1,34E12
FL


3,80E11

BE
66,75
3,805,31
972,70
934,05
EPS
-25,96
865,21
162,21
203,24
SIZE
10,00
14,87
13,49
0,83

Koefisien determinasi (R2) pada Tabel di atas yang dihasilkan dari regresi linier berganda sebesar 0,839 dan adjusted R2 sebesar 0,833. Maka dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa selisih loans book value dan loans book value, book value per share, earnings per share dan ukuran perusahaan memiliki kontribusi sebesar 83,3% dalam mempengaruhi harga saham sedangkan 16,7% sisanya dipengaruhi oleh variabel independen lain yang tidak diteliti. Berikut Table Hasil Analisi Regresi Linier Berganda:

Model
β
Sig β (t-hitung)
Konstanta
-3.790,243

DIFF_BLFL
8,673E-11
0,251
BE
-0,268
0,357
EPS
11,706
0,000**
SIZE
312,994
0,050**
R²

0,839
Adjusted R²

0,833
Sig β (t-hitung)

0,000

Variabel Dependen: Price


             **Signifikan pada level 5%

Koefisien determinasi (R2) pada Tabel di atas yang dihasilkan dari regresi linier berganda sebesar 0,826 dan adjusted R2 sebesar 0,810. Maka dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa selisih loans book value dan loans book value, book value per share, earnings per share dan ukuran perusahaan memiliki kontribusi sebesar 81% dalam mempengaruhi harga saham sedangkan 19% sisanya dipengaruhi oleh variabel independen lain yang tidak diteliti. Analisis sensitivitas pada penelitian dilakukan pada sampel perusahaan yang antara loans book value dan loans fair value mempunyai perbedaan nilai. 
Dari keseluruhan sampel yang dipilih, terdapat 48 sampel yang menunjukkan selisih loans book value dan loans fair value. Hasil analisis regresi linier berganda pada sampel ini akan dijelaskan pada Tabel Hasil Analisi Regresi Linier Berganda 48 Sampel:

Model
β
Sig β (t-hitung)
Konstanta
-8.864,072

DIFF_BLFL
2,500E-10
0,018**
BE
-1,462
0,009**
EPS
17,074
0,000**
SIZE
748,370
0,057**
R²

0,826
Adjusted R²

0,810
Sig β (t-hitung)

0,000

Variabel Dependen: Price


**Signifikan pada level 5% 
*Signifikan pada level 10%

7. Hasil :
- Pengaruh Selisih Loans book value dan Loans Fair Value terhadap Harga Saham Berdasarkan pada Table Hasil Analisi Regresi Linier Berganda dan Tabel Hasil Analisi Regresi Linier Berganda 48 Sampel, hasil analisis regresi linier berganda menunjukkan bahwa nilai  untuk variabel selisih loans book value dan loans fair value (DIFF_BLFL) adalah bertanda positif dengan nilai β untuk variabel selisih loans book value dan loans fair value (DIFF_BLFL) adalah bertanda positif dengan nilai signifikansi β sebesar 0,018 lebih kecil dari tingkat signifikan 0,05 maka secara parsial terdapat pengaruh yang signifikan dari selisih loans book value dan loans fair value terhadap harga saham. Hal ini berarti bahwa pengungkapan loans fair value mempunyai value relevance dalam menjelaskan harga saham.
- Pengaruh Book Value Per Share terhadap Harga Saham Berdasarkan pada Table Hasil Analisi Regresi Linier Berganda dan Tabel Hasil Analisi Regresi Linier Berganda 48 Sampel, hasil analisis regresi linier berganda menunjukkan bahwa nilai β untuk variabel book value per share (BVE) adalah bertanda negatif dengan nilai signifikansi β sebesar 0,009 lebih kecil dari tingkat signifikan 0,05 maka secara parsial terdapat pengaruh yang signifikan dari book value per share terhadap harga saham.
- Pengaruh Earnings Per Share terhadap Harga Saham Berdasarkan pada Table Hasil Analisi Regresi Linier Berganda dan Tabel Hasil Analisi Regresi Linier Berganda 48 Sampel, hasil analisis regresi linier berganda menunjukkan bahwa β untuk variabel earnings per share (EPS) adalah bertanda positif dengan nilai signifikansi β sebesar 0,000 lebih kecil dari tingkat signifikan 0,05 maka secara parsial ada pengaruh yang signifikan dari earnings per share terhadap harga saham.
- Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Harga Saham Pengaruh yang signifikan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa. bahwa perusahaan yang berukuran besar cenderung dapat melakukan diversifikasi dan dapat menghasilkan laba yang lebih yang relatif tinggi karena mudah melakukan akses ke pasar untuk mendapatkan modal dibandingkan dengan perusahaan yang berukuran kecil. Hal ini menunjukkan bahwa ketika perusahaan besar dapat menghasilkan laba yang tinggi, investor akan tertarik untuk membeli saham perusahaan yang berukuran besar dibandingkan dengan perusahaan yang lebih kecil, sehingga harga saham akan naik (Djadmiko, 2008).


Sumber :               
http://id.portalgaruda.org/?ref=browse&mod=viewarticle&article=400154

REVIEW JURNAL 2

1. Judul Penelitian :
Hubungan Antara ISO 14001, Environmental Performance dan Environmental Disclosure Terhadap Economic Performance

2. Penulis
Rezin Andayani

3. Nama Jurnal :
Jurnal Akuntansi dan Sistem Teknologi Informasi Vol. 11 No 2 September 2015: 186 – 193

4. Tahun Terbit : 
2015

5. Latar Belakang Penelitian : 
Masalah lingkungan di Indonesia merupakan masalah yang penting dan harus diperhatikan, mengingat dampak buruk yang ditimbulkan dari pengelolaan lingkungan yang kurang baik kini semakin nyata. Namun seiring dengan berjalannya waktu, masyarakat semakin menyadari adanya dampak-dampak sosial yang ditimbulkan oleh perusahaan dalam menjalankan operasinya untuk mencapai laba yang maksimal, yang semakin besar dan semakin sulit untuk dikendalikan. Dalam hal ini perusahaan manufaktur memiliki kontribusi yang cukup besar dalam masalah-masalah seperti polusi, limbah, keamanan produk dan tenaga kerja. Dilihat dari produksinya perusahaan manufaktur mau tidak mau akan menghasilkan limbah produksi dan hal ini berhubungan erat dengan masalah pencemaran lingkungan. Akuntansi sebagai alat pertanggungjawaban memiliki fungsi sebagai pengendali atas setiap unit usaha. Bentuk pertanggungjawaban akuntansi tentu harus diwujudkan dalam bentuk laporan keuangan dengan menyajikan dan mengungkapkan setiap materi akuntansi informasi yang dibutuhkan, oleh karena itu pinsip full disclousure memegang peranan penting. Sehingga perusahaan seharusnya melaporkan pengelolaan lingkungan perusahaannya dalam annual report. Banyak perusahaan di dalam menjalankan bisnisnya tidak berperan aktif dalam peraturan mengenai lingkungan dan belum pernah mengikuti penyuluhan tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) serta tidak menerapkan SML (Sistem Manajemen Lingkungan) ISO 14001. Sistem Manajemen Lingkungan ISO 14001 (SML ISO-14001) merupakan suatu perangkat pengelolaan lingkungan yang bersifat sukarela (voluntary) bertujuan untuk secara berkelanjutan mencapai perbaikan pengelolaan dan pengendalian dampak lingkungan, dengan prinsip kerja yang mengutamakan pencegahan polusi, taat dengan peraturan dan perbaikan berkelanjutan. UU RI No. 23 tahun 1997 mengenai Pengelolaan Lingkungan Hidup berlaku bagi semua Warga Negara Republik Indonesia, namun sampai saat ini pelaksanaanya masih jauh dari harapan. Pemerintah melalui Kementrian Lingkungan Hidup bahkan telah membetuk program yang disebut dengan PROPER (Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup) sebagai bentuk penaatan lingkungan hidup perusahaan-perusahaan di Indonesia. Tujuan PROPER adalah meningkatkan efisiensi pengelolaan lingkungan dengan melakukan penilaian kegiatan lingkungan dari sudut pandang biaya (environmental costs) dan manfaat atau efek (economic benefit).

6. Metode :
Populasi dalam penelitian iniadalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan menggunakan metode purposive sampling dengan kriteria: 
1) Perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2011-2013. 
2) Menerbitkan laporan keuangan tahunan yang lengkap dalam mata uang rupiah selama tiga tahun pengamatan. 
3) Perusahaan telah mengikuti Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER).
Dalam penelitian ini untuk ISO 14001 menggunakan uji kontingensi koefisien c dan uji analisis deskriptif sedangkan untuk environmental performance dan environmental disclosure menggunakan uji korelasi spearman rank. Secara sistematis kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat di gambarkan sebagai berikut: 












Gambar 1. Kerangka Pemikiran

7. Hasil :
Hasil uji deskriptif menunjukkan bahwa perusahaan yang bersertifikasi ISO 14001 memiiki kinerja ekonomi lebih tinggi dibandingkan perusahhan yang tidak bersertifikasi ISO 14001. Dengan rata-rata ROA 0,205 untuk perusahaan yang bersertifikasi ISO 14001 dan rata-rata ROA 0,064 untuk perusahaan yang tidak bersertifikasi ISO 14001. 
- Hipotesis 1 menyatakan bahwa ISO 14001 memiliki hubungan yang signifikan dengan economic performance, dari hasil uji menunjukkan nilai signifikansi (Approx. sig) sebesar 0,430 > 0,05 dan dilihat dari koefisien kontingensi, ISO 14001 memiliki hubungan yang kuat dengan economic performance (ROA) dengan nilai koefisien kontingensi sebesar 0,707. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ISO 14001 memiliki hubungan yang positif tidak signifikan dengan tingkat korelasi kuat terhadap economic performance (ROA), sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis 1 tidak terbukti yaitu ISO 14001 memiliki hubungan yang positif tidak signifikan dengan economic performance. 
- Hipotesis 2 menyatakan bahwa environmental performance yang diukur dengan peringkat PROPER dari Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) memiliki hubungan yang signifikan dengan economic performamnce (ROA), dari hasil uji menunjukkan nilai sig (2-tailed) 0,00 < 0,05 dan dilihat dari correlation coefficient, environmental performance memiliki hubungan yang sedang dengan economic performance dengan nilai correlation coefficient sebesar 0,564. Sehingga dapat disimpulkan bahwa environmental performance memiliki hubungan yang positif signifikan dengan tingkat korelasi sedang terhadap economic performance, sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis 2 terbukti yaitu environmental performance (PROPER) memiliki hubungan yang positif signifikan dengan economic performance. 
- Hipotesis 3 menyatakan bahwa environmental disclosure memiliki hubungan yang signifikan dengan economic performance, dari hasil uji menunjukkan niali sig (2-tailed) 0,00 < 0,05 dan dilihat dari correlation coefficient, environmental disclosure memiliki hubungan yang sedang dengan economic performance dengan nilai correlation coefficient sebesar 0,580. Sehingga dapat disimpulkan bahwa environmental disclosure memiliki hubungan yang positif signifikan dengan tingkat korelasi yang sedang terhadap economic performance, sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis 3 terbukti yaitu environmental disclosure memiliki hubungan yang positif signifikan dengan economic performance. 


Sumber :
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=381171&val=5258&title=HUBUNGAN%20ANTARA%20ISO%2014001,%20ENVIRONMENTAL%20PERFORMANCE%20DAN%20ENVIRONMENTAL%20DISCLOSURE%20TERHADAP%20ECONOMIC%20PERFORMANCE

REVIEW JURNAL 3

1. Judul Penelitian : 
Analisis Pengaruh Kriteria Good Corporate Governance Terhadap Pengungkapan Corporate Social Responsibility Pada Perusahaan Sub-Sektor Farmasi Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia

2. Penulis : 
Margaretha Dita Utari

3. Nama Jurnal : 
Jurnal Audit dan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Tanjungpura Vol. 3, No. 1, Agustus 2014 Hal. 53-80

4. Tahun Terbit : 
2014

5. Latar Belakang Penelitian : 
Pola perkembangan industri bisnis di Indonesia telah   menyadari akan pentingnya tanggung jawab sosial (Corporate Social Responsibility). Dalam definisi yang sederhana CSR merupakan bentuk kontribusi yang diberikan pihak perusahaan kepada masyarakat serta sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. UUPM 2007 pasal 15b menjelaskan bahwa CSR merupakan komitmen yang berkelanjutan untuk pembangunan ekonomi oleh perusahaan guna menciptakan dan meningkatkan kualitas sosial dan lingkungan. ISO 26000:2010 mengungkapkan tanggung jawab sosial merupakan akibat dari pelaksanaan kegiatan operasional perusahaan yang mempengaruhi sosial dan lingkungan serta dalam melaksanakan tanggung jawab tersebut menyimpan perhatian para investor khususnya dalam pengungkapan dan pelaporannya. Mengingat pentingnya CSR maka pihak pemerintah dan perusahaan telah memberikan perhatian kepada hal tersebut. Salah satu bentuk perhatian pemerintah yaitu dikeluarkan Undang-undang No. 40 tahun 2007 tentang Perseoran Terbatas serta kewajiban pelaksanaan CSR juga diatur dalam Undang-undang No. 25 tahun 2007 pasal 15 bagian b, pasal 17, dan pasal 34 yang mengatur setia penanaman modal diwajibkan untuk ikut serta dalam tanggung jawab sosial perusahaan. Ketentuan ini dimaksudkan untuk menciptakan kesamaan perusahaan dengan kondisi lingkungan, nilai, norma, dan budaya masyarakat agar mewujudkan pembangunan lingkungan, sosial dan ekonomi demi terciptanya kelangsungan hidup lingkungan yang berkelanjutan. Standar pengukuran yang digunakan untuk mengukur tanggung jawab sosial dalam sustainability report adalah menggunakan konsep Global Reporting Initiative (GRI). Menurut konsep Global Reporting Initiative (GRI), tanggung jawab sosial perusahaan dapat diukur melalui tiga kriteria, yakni sosial, ekonomi, dan lingkungan. Utama (2007) struktur dan prosedur laporan CSR diungkapkan dan dilaporkan dengan sebenarnya merupakan salah satu prosedur pengukuran governance dalam suatu perusahaan. Pengungkapan dan pelaporan CSR dalam laporan tahunan perusahaan merupakan hal dari pengimplementasian Good Corporate Governance (GCG) di Indonesia. Dari pengungkapan dan pelaporan CSR yang berdampak pada Good Corporate Governance (GCG) menjelaskan bahwa untuk menjaga kelangsungan hidup perusahaan agar kegiatan operasional perusahaan berjalan dengan baik dan lancar, maka dari pihak perusahaan harus memperhatikan kepentingan stakeholders demi terciptanya kerjasama yang baik antara pihak perusahaan dan para stakeholders. Hasil penelitian Ni Wayan Rustiarini (2010) menunjukkan bahwa ada variabel yang berpengaruh pada pengungkapan CSR, variabel tersebut adalah kepemilikan asing. Hasil penelitian Waryanto (2010) menunjukkan bahwa faktor yang paling berpengaruh pada pengungkapan CSR adalah kepemilikan saham terkonsentrasi serta dari penelitian tersebut menyatakan bahwa ukuran perusahaan dan leverage juga mempengaruhi pengungkapan terhadap CSR. Hasil penelitian Effendi, et al (2011) menunjukkan bahwa kriteria Good Corporate Governance yang terdapat di dalam perusahaan yaitu dewan komisaris tidak berpengaruh dengan pengungkapan CSR. Penelitian ini mengacu pada penelitian sebelmunya yang dilakukan oleh Meisa (2013). Variabel yang akan diteliti di dalam penelitian ini adalah ukuran dewan komisaris, proporsi komisaris independen, ukuran komite audit, kepemilikan saham asing. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh kriteria Good corporate governance terhadap pengungkapan corporate social responsibility pada perusahaan sub-sektor farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan Faktorfaktor apa saja yang mendorong perusahaan untuk melakukan pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR). Hasil penelitian ini diharapkan memberikan perkembangan dalam ilmu akuntansi, khususnya dalam ilmu sistem pegendalian manajemen, mengenai bagaimana kriteria Good Corporate Governance (GCG) pada perusahaan dapat mempengaruhi pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR) pada perusahaan di Indonesia dan untuk memberikan identifikasi mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perusahaan melakukan pengungkapan terhadap tanggung jawab sosial.

6. Metode :
Bentuk penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Menurut Firdaus (2012) penelitian kuantitatif adalah penelitian yang menggunakan angka (numerical) untuk menjelaskan hasil dari observasi. Dalam penelitian ini terdapat dua variable yaitu; Variable Dependen dan Variable Independen. Variabel Dependen yang digunakan adalah pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang terdapat di dalam laporan keuangan tahunan perusahaan. Sedangkan Variable Independen terbagi atas: 
- Ukuran Dewan Komisaris : Yang digunakan dalam penelitian ini adalah jumlah anggota dewan komisaris yang terdapat dalam laporan keuangan tahunan perusahaan. 
- Proporsi Komisaris Independen : Untuk memperoleh proporsi komisaris independen perusahaan dapat dilakukan dengan membandingkan jumlah anggota komisaris independen dengan jumlah seluruh anggota komisaris. 
- Ukuran Komite Audit : Jumlah anggota komite audit yang terdapat di dalam perusahaan. Untuk menghitung besarnya komite audit perusahaan dapat dilihat di dalam laporan keuangan tahunan perusahaan. 
- Kepemilikan Saham Asing : Proporsi dari sebagian saham perusahaan atau kepemilikan perusahaan dimiliki oleh pihak asing baik secara individu, badan maupun negara. 
- Ukuran Perusahaan : Kekuatan perusahaan dalam mengembangkan perusahaan sehingga kinerja perusahaan dapat berjalan dengan baik dan dapat menarik para stakeholders ke dalam perusahaan

7. Hasil :
Sumber data yang digunakan dengan cara menganalisis ukuran kriteria yang berasal dari sumber data utama yang diperoleh tanpa melibatkan interaksi dengan orang lain, yang disebut dengan metode Unobtrusive. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang dalam bentuk laporan tahunan perusahaan sub-sektor farmasi yang go public yang tedaftar di BEI. Populasi yang digunakan sebagai objek dalam melakukan penelitian ini adalah dari perusahaan yang bergerak di sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pengujian model regresi terhadap model yang telah dibuat oleh penulis, untuk pengujian model regresi, maka penulis menggunakan Software SPSS versi 21.0. Hubungan antara kriteria Good Corporate Governance terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial dapat dirumuskan dengan persamaan berikut ini : 

CSRDli = β0 + β1UKOMi + β2INKOMi + β3UDITi + β4ASINGi + β5SIZEi 

Keterangan : 
CSRDli : Indeks Pengungkapan CSR Perusahaan i 
UKOM : Ukuran Dewan Komisaris 
INKOM : Proporsi Komisaris Independen 
UDIT : Ukuran Komite Audit 
ASING : Kepemilikan Saham Asing 
SIZE : Ukuran Perusahaan

Berdasarkan pengujian statistik deskriptif dapat di tabel sebagai berikut dengan Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian adalah 9 perusahaan dengan meneliti laporan tahunan perusahaan 5 tahun dari Tahun 2008-2012. Jadi total keseluruhan sampel dalam penelitian ini adalah 45 :

Keterangan
Jumlah Sampel
Nilai Minimum
Nilai Maksimum
Rata Rata
Simpangan Baku
CSRDI
45
0,000
0,892
0,26884
0,193434
UKOM
45
3,0
7,0
4,000
1,3143
INKOM
45
0,250
0,600
0,36969
0,086185
UDIT
45
2,0
5,0
3,200
0,6606
ASING
45
0,000
0,927
0,32269
0,363710
SIZE
45
4,865
12,317
6,88936
2,215382

- Hipotesis 1 menyatakan bahwa ukuran dewan komisaris berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan CSR. Hipotesis 1 diuji dengan tingkat signifikansi 5%. Ukuran dewan komisaris (UKOM) mempunyai nilai signifikansi 0,000 < 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel ukuran dewan komisaris berpengaruh secara signifikan terhadap luas pengungkapan CSR. 
- Hipotesis 2 menyatakan bahwa proporsi komisaris independen tidak berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan CSR. proporsi komisaris independen yang diproksikan dengan (INKOM) mempunyai nilai signifikansi 0,778 > 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel proporsi komisaris independen tidak berpengaruh secara signifikan terhadap luas pengungkapan CSR. 
- Hipotesis 3 menyatakan bahwa ukuran komite audit tidak berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan CSR. ukuran komite audit yang diproksikan dengan Logaritma Natural (UDIT) mempunyai nilai signifikansi 0,235 > 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel ukuran komite audit tidak berpengaruh secara signifikan terhadap luas pengungkapan CSR. 
- Hipotesis 4 menyatakan bahwa kepemilikan saham asing tidak berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan CSR. kepemilikan saham asing yang diproksikan dengan (ASING) mempunyai nilai signifikansi 0,717 > 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel kepemilikan saham asing tidak berpengaruh secara signifikan terhadap luas pengungkapan CSR. 
- Hipotesis 5 menyatakan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan CSR. kepemilikan saham asing yang diproksikan dengan (ASING) mempunyai nilai signifikansi 0,634 > 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel ukuran perusahaan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap luas pengungkapan CSR. 

Sumber :
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=295560&val=2350&title=Analisis%20Pengaruh%20Kriteria%20Good%20Corporate%20Governance%20Terhadap%20Pengungkapan%20Corporate%20Social%20Responsibility%20Pada%20Perusahaan%20Sub-Sektor%20Farmasi%20Yang%20Terdaftar%20Di%20Bursa%20Efek%20Indonesia